Kamis, 09 April 2015

MENGHINDARI BUDAYA BULLYING PADA MASA ORIENTASI SISWA BARU



            Akhir-akhir ini di media banyak beredar kabar tentang kasus bullying. Kasus bullying ini sebagian besar menimpa para pelajar mulai dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa. Tindakan bullying juga kerap terjadi pada saat Masa Orientasi Siswa atau Ospek di perguruan tinggi yang dilakukan oleh kakak tingkat yang tidak jarang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.  Tindakan bullying yang kerap terjadi saat Masa Orientasi Siswa mengakibatkan orang tua resah terhadap kondisi anak-anak mereka yang mengikuti acara masa orientasi, begitu pula para siswa dan mahasiswa yang mengikuti masa orientasi saat pertama kali mereka memasuki sekolah atau perguruan tinggi.
A.      BULLYING
Bullying merupakan salah satu tindakan agresi yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan untuk menyakiti atau mengganggu anak lain atau korban yang lebih lemah darinya. Ada beberapa bentuk bullying. Bullying dalam bentuk fisik contohnya memukul, mendorong,  meninju, menghancurkan barang orang lain, mengancam secara fisik, memelototi,m dan mencuri barang. Bullying dalam bentuk psikologis seperti mengucilkan, menyebarkan gosip, mengancam, gurauan yang mengolok-olok, secara sengaja mengisolasi seseorang. Menghancurkan reputasi seseorang dan mengasingkan seseorang secara sosial. Bullying dalam bentuk verbal seperti menghina, membentak, menggunakan  kata-kata kasar, menyindir, meneriaki dengan kasar, memanggil dengan julukan, keluarga, kecacatan, dan ketidakmampuan. Bullying dalam bentuk sosial seperti seperti mengucilkan dan mengabaikan orang. Dampak yang diderita oleh korban bullying dapat berlangsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang (Baldry & Farrignton, 2004; Hay, Payne, Chadwick, 2004; Lopez, 2005; Prinstein, 2005; Roberts, 2006). Dalam jangka pendek, mereka dapat menjadi depresi, kehilangan minat untuk menyelesaikan tugas sekolah, atau sering menolak pergi ke sekolah. Dampak bullying dapat berlangsung terus hingga dewasa. Sebuah studi longitudinal terhadap laki-laki dewasa yang menjadi korban bullying ketika masa kanak-kanak menyatakan bahwa di usia dua puluhan mereka lebih depresi dan memiliki harga diri yang lebih rendah dibandingkan rekan-rekannya yang tidak menjadi korban bullying ketika kanak-kanak (Olweus, 1994)

B.      MENYELENGGARAKAN MOS ANTIBULLYING
Sekolah merupakan tempat dimana anak didik atau peserta didik dibina oleh lingkungan sekolah untuk diajarkan tentang bagaimana menjaga sikap dan berperilaku baik selain memilki pengetahuan yang luas. Banyak orang tua menaruh harapan yang besar kepada sekolah untuk mendidik anaknya menjadi pribadi yang berakhlak baik dan berpengetahuan yang luas, tetapi pada kenyataannya banyak anak yang menjadi korban bullying di sekolahnya, khususnya pada saat kegiatan Masa Orientasi Siswa. Masa orientasi seolah dijadikan ajang adu kuat dan balas dendam yang dilakukan oleh para senior. Mereka beralasan bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk melatih kedisiplinan para siswa baru. Padahal, melatih kedisiplinan sejatinya tidak dilakukan dengan tindak kekerasan, namun dengan latihan, pengulangan dan pembiasaan. Jika acara masa orientasi siswa baru selalu diisi dengan tindak kekerasan setiap tahunnya, hal ini akan menjadi mata rantai yang susah untuk diputus karena selalu ada motif ‘balas dendam’ dari para siswa yang pernah menjadi korban bullying sebelumnya.
Agar dapat memutus mata rantai tindakan bullying pada saat Masa Orientasi Siswa baru, tindakan nyata harus dilakukan oleh pihak-pihak terkait, terutama pihak-pihak sekolah yang mengadakan Masa Orientasi Siswa baru di sekolahnya. Kegiatan-kegiatan pada Masa Orientasi Siswa harus benar-benar kembali kepada tujuan semula, yakni orientasi atau pengenalan siswa terhadap lingkungan sekolah yang baru. Berikut ini kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengisi Masa Orientasi Siswa Baru.
1.      Pengenalan Siswa terhadap lingkungan sekolah yang baru dikenalnya. Hal ini mencakup seluruh aspek, seperti letak tata ruang, organisasi sekolah, guru-guru, dan sebagainya.
2.      Mengadakan kegiatan outbond atau permainan untuk mengasah softskill dan hardskill.
3.      Training motivasi.
4.      Jelajah alam atau rekreasi.
5.      Pentas seni.
Selain yang disebutkan di atas, tentu saja masih banyak daftar kegiatan positif yang dapat dilakukan untuk mengisi Masa Orientasi Siswa Baru. Masa Orientasi Siswa Baru tidak harus diisi dengan bentakan-bentakan senior dengan alasan melatih kedisiplinan dan hormat-menghormati. Tindakan kekerasan justru akan menyambung mata rantai bullying pada kegiatan Masa Orientasi Siswa Baru. Kepatuhan akan tumbuh melalui perlakuan lemah lembut, kasih sayang, dan kekeluargaan, bukan dengan bentakan, pukulan, ataupun hukuman.
Daftar Pustaka
Santrock, John W. 2007. Remaja, Jilid 2, Edisi Kesebelas. Erlangga: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar