Akhir-akhir
ini di media banyak beredar kabar tentang kasus bullying. Kasus bullying ini
sebagian besar menimpa para pelajar mulai dari siswa sekolah dasar hingga
mahasiswa. Tindakan bullying juga kerap terjadi pada saat Masa Orientasi Siswa
atau Ospek di perguruan tinggi yang dilakukan oleh kakak tingkat yang tidak
jarang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Tindakan bullying yang kerap terjadi saat Masa
Orientasi Siswa mengakibatkan orang tua resah terhadap kondisi anak-anak mereka
yang mengikuti acara masa orientasi, begitu pula para siswa dan mahasiswa yang
mengikuti masa orientasi saat pertama kali mereka memasuki sekolah atau
perguruan tinggi.
A. BULLYING
Bullying merupakan salah
satu tindakan agresi yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan untuk
menyakiti atau mengganggu anak lain atau korban yang lebih lemah darinya. Ada
beberapa bentuk bullying. Bullying dalam bentuk fisik contohnya memukul,
mendorong, meninju, menghancurkan barang
orang lain, mengancam secara fisik, memelototi,m dan mencuri barang. Bullying
dalam bentuk psikologis seperti mengucilkan, menyebarkan gosip, mengancam,
gurauan yang mengolok-olok, secara sengaja mengisolasi seseorang. Menghancurkan
reputasi seseorang dan mengasingkan seseorang secara sosial. Bullying dalam
bentuk verbal seperti menghina, membentak, menggunakan kata-kata kasar, menyindir, meneriaki dengan
kasar, memanggil dengan julukan, keluarga, kecacatan, dan ketidakmampuan.
Bullying dalam bentuk sosial seperti seperti mengucilkan dan mengabaikan orang.
Dampak yang diderita oleh korban bullying dapat berlangsung dalam jangka pendek
maupun jangka panjang (Baldry & Farrignton, 2004; Hay, Payne, Chadwick,
2004; Lopez, 2005; Prinstein, 2005; Roberts, 2006). Dalam jangka pendek, mereka
dapat menjadi depresi, kehilangan minat untuk menyelesaikan tugas sekolah, atau
sering menolak pergi ke sekolah. Dampak bullying dapat berlangsung terus hingga
dewasa. Sebuah studi longitudinal terhadap laki-laki dewasa yang menjadi korban
bullying ketika masa kanak-kanak menyatakan bahwa di usia dua puluhan mereka
lebih depresi dan memiliki harga diri yang lebih rendah dibandingkan rekan-rekannya
yang tidak menjadi korban bullying ketika kanak-kanak (Olweus, 1994)
B. MENYELENGGARAKAN MOS ANTIBULLYING
Sekolah merupakan tempat
dimana anak didik atau peserta didik dibina oleh lingkungan sekolah untuk
diajarkan tentang bagaimana menjaga sikap dan berperilaku baik selain memilki
pengetahuan yang luas. Banyak orang tua menaruh harapan yang besar kepada
sekolah untuk mendidik anaknya menjadi pribadi yang berakhlak baik dan
berpengetahuan yang luas, tetapi pada kenyataannya banyak anak yang menjadi korban
bullying di sekolahnya, khususnya pada saat kegiatan Masa Orientasi Siswa. Masa
orientasi seolah dijadikan ajang adu kuat dan balas dendam yang dilakukan oleh
para senior. Mereka beralasan bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk melatih
kedisiplinan para siswa baru. Padahal, melatih kedisiplinan sejatinya tidak
dilakukan dengan tindak kekerasan, namun dengan latihan, pengulangan dan
pembiasaan. Jika acara masa orientasi siswa baru selalu diisi dengan tindak
kekerasan setiap tahunnya, hal ini akan menjadi mata rantai yang susah untuk
diputus karena selalu ada motif ‘balas dendam’ dari para siswa yang pernah
menjadi korban bullying sebelumnya.
Agar dapat memutus mata
rantai tindakan bullying pada saat Masa Orientasi Siswa baru, tindakan nyata harus
dilakukan oleh pihak-pihak terkait, terutama pihak-pihak sekolah yang
mengadakan Masa Orientasi Siswa baru di sekolahnya. Kegiatan-kegiatan pada Masa
Orientasi Siswa harus benar-benar kembali kepada tujuan semula, yakni orientasi
atau pengenalan siswa terhadap lingkungan sekolah yang baru. Berikut ini
kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengisi Masa Orientasi Siswa Baru.
1. Pengenalan Siswa terhadap lingkungan
sekolah yang baru dikenalnya. Hal ini mencakup seluruh aspek, seperti letak
tata ruang, organisasi sekolah, guru-guru, dan sebagainya.
2. Mengadakan kegiatan outbond atau
permainan untuk mengasah softskill dan hardskill.
3. Training motivasi.
4. Jelajah alam atau rekreasi.
5. Pentas seni.
Selain yang disebutkan di
atas, tentu saja masih banyak daftar kegiatan positif yang dapat dilakukan
untuk mengisi Masa Orientasi Siswa Baru. Masa Orientasi Siswa Baru tidak harus
diisi dengan bentakan-bentakan senior dengan alasan melatih kedisiplinan dan
hormat-menghormati. Tindakan kekerasan justru akan menyambung mata rantai
bullying pada kegiatan Masa Orientasi Siswa Baru. Kepatuhan akan tumbuh melalui
perlakuan lemah lembut, kasih sayang, dan kekeluargaan, bukan dengan bentakan,
pukulan, ataupun hukuman.
Daftar Pustaka
Santrock, John W. 2007. Remaja, Jilid 2, Edisi Kesebelas.
Erlangga: Jakarta.
http://m.myindischool.com/content/myschool/perilaku-bullying-di-kalangan-pelajar
diakses pada Kamis, 2 April
2015.
http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/BK-Psikologi/article/view/21336
diakses pada Kamis, 2 April
2015.
http://qisthina88.blogspot.com/2012/07/stop-bullying.html?m=1
diakses pada Kamis, 2 April
2015.