Dewasa ini, budaya mencontek sudah dianggap sebagai hal biasa yang pantas untuk dilakukan. Terlebih saat hajatan besar seperti Ujian Nasional di gelar, para guru tidak segan lagi untuk mengajari siswanya trik jitu mencontek agar lulus menghadapi Ujian Nasional dengan nilai bagus dan mengharumkan nama sekolah dengan pencapaian nilai Ujian Nasional yang tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa nilai-nilai kejujuran mulai pudar dari kepribadian kita, bahkan seorang guru sekalipun yang notabene adalah panutan dalam berbuat baik. Untuk menumbuhkan kembali semangat kejujuran yang mulai memudar ini, diperlukan langkah nyata dan efektif agar terbentuk pribadi-pribadi yang tidak hanya pintar, namun juga memiliki kepribadian jujur. Salah satu upaya nyata untuk menumbuhkan kembali semangat kejujuran yaitu dengan mewujudkan program kantin kejujuran di sekolah-sekolah hingga ke perguruan tinggi. Dengan kantin kejujuran, para siswa diharapkan mampu menerapkan perilaku jujur secara nyata dan memberikan pendidikan karakter kejujuran.
A. Pendidikan
Karakter
Pengertian
karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa,
kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen,
watak” adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat,
bertabiat, dan berwatak”. Coon mendefinisikan karakter sebagai
suatu penilaian subjektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan
atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat.
Dalam tulisan bertajuk Urgensi Pendidikan Karakter, Prof. Suyanto, Ph.D.
menjelaskan bahwa “karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi
ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup
keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah
individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap
akibat dari keputusan yang ia buat”.
Pendidikan
karakter diartikan sebagai the deliberate us of all dimension of school life to
foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh
dimensi kehidupan sekolah untuk membantu pengembangan karakter dengan optimal).
Bahkan dari sumber yang lain disebutkan bahwa:
“character education is the deliberate
effort to cultivate virtue that is objectively good human qualities that are
good for the individual person and good for the whole society”.
“pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar)
untuk mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas kemanusiaan yang baik secara
objektif, bukan hanya baik untuk individu perseorangan, tetapi juga baik untuk
masayarakat secara keseluruhan”.
Creasy, mengartikan pendidikan karakter
sebagai upaya mendorong peserta didik tumbuh dan berpegang terguh pada
prnsip-prinsip moral dalam hidupnya serta memunyai keberanian melakukan yang
‘benar’, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan. Untuk itu, penekanan
pendidikan karakter tidak terbatas pasa transfer pengetahuan mengenai
nilai-nilai yang baik, namun lebih dari itu menjangkau pada bagaimana
menjadikan nilai-nilai tersebut tertanam dan menyatu dalam totalitas pikiran-tindakan.
Pendidikan karakter dipahami
sebagai upaya penanaman kecerdasan dalam berpikir, penghayatan dalam bentuk
sikap, dan pengamalan dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai
luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya,
diri sendiri, antarsesama, dan lingkungannya. Niali-nilai luhur tersebut antara
lain kejujuran, kemandirian, sopan santun, kemuliaan sosial, kecerdasan
berpikirtermasuk kepensaran akan intelektual, dan berpikir logis. Oleh karena
itu, penanaman pendidikan karakter perlu prose, contoh teladan, dan pembiasaan
atau pembudayaan dalam lingkungan peserta didik dalamm lingkungan sekolah,
keluarga, lingkungan masyarakat, maupun lingkungan (exposure) media massa.
B. Kantin
Kejujuran untuk Membentuk Pribadi yang Jujur dalam Segala Aspek Kehidupan.
Kantin
kejujuran merupakan sebuah metode jual beli tanpa adanya penjual yang menjaga
barang dagangan. Kantin kejujuran diterapkan sebagai salah satu upaya
menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada pembelinya. Pada umumnya kantin
kejujuran diterapkan di sekolah-sekolah untuk melatih para siswanya agar dapat
membiasakan perilaku jujur. Para siswa di perbolehkan untuk dengan bebas
membeli barang dagangan tanpa ada penjual yang menjaga barang dagangan
tersebut. Disinilah kejujuran para siswa diuji, akankah para siswa akan
mengambil barang yang mereka beli dengan membayarkan uang di tempat yang sudah
disediakan atau tidak, juga saat para siswa di tuntut untuk mengambil uang
kembalian jika itu diperlukan dengan jujur.
Penerapan
kantin yang menghadapkan peserta didik pada dua pilihan, yaitu ingin menerapkan
kejujuran hati nuraninya atau tidak saat membeli dan membayar makanan atau
minuman. Pendidikan karakter memunyai peranan penting dalam pengelolaan kantin
kejujuran, karena melalui kantin kejujuran ini siswa akan dibentuk karakternya
dengan mulai dibiasakan untuk belajar jujur. Hal tersebut terlihat ketika siswa
berada di kantin pada saat membeli makanan dan minuman serta membayar sendiri
tanpa ada yang mengawasi. Jadi, secara perlahan, kebiasaan berperilaku jujur
akan perlahan melekat dengan adanya kantin kejujuran ini. Karakter kejujuranpun
dapat terbentuk dalam diri setiap siswa.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter. Kencana: Jakarta.
5. http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/ASP/article/view/22553 diakses pada Sabtu, 4 April 2015.
2. Akhmad Sudrajat,” “konsep Pendidikan karakter”,
dalam akhmad sudrajat.wordpress.com, 15 september 2010, http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/09/15konsep-pendidikan-karakter/
dan baca Kemendiknas, Pembinaan pendidikan karakter di sekolah menengah
pertama, (jakarta, 2010)
3. Melly Latifah, “peranan keluarga dalam
pendidikan karakter anak”,dalam strawberrysekolahbakatprestasi.wordpress.com,
dipublikasikan 17 okt 2010, http://strawberrysekolahbakat-prestasi.wordpress.com/2010/10/17/peranan-keluarga-dalam-pendidikan-karakter-anak//.
4. Suparlan, “pendidikan karakter: sedemikian
pentingkah, dan apakah yang harus kita lakukan” dalam suparlan.com,
dipublikasikan 15 okt 2010 http://www.suparlan.com/pages/posts/pendidikan-karakter-sedemikian-pentingkah-dan-apa-yang-harus-kita-lakukan-305.php.
5. http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/ASP/article/view/22553 diakses pada Sabtu, 4 April 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar