Minggu, 14 Juni 2015

Allah Is The Best Planner



Selasa, 10 Juni 2015
                Siang yang terik bertambah panas karena hari ini adalah hari terakhir pengumpulan berkas untuk mengikuti mata kuliah magang 1, sedangkan aku belum melengkapi berkas-berkas itu sama sekali. Saat itu, sebuah pesan yang menambah stres membunyikan hp di genggamanku.
Zakia dan Dea, kalian ikut lomba ya di Semarang hari sabtu. hari ini saya tunggu di LPPI ya untuk koordinasi.
Ustadzah
“aduh! Apalagi ini? Lomba? Tugas aja banyak banget” serentetan keluhan keluar dari mulutku.
“kenapa, Za?” teman yang duduk di sebelahku bertanya demi melihat wajah putus asaku.
“ini Ut, aku disuruh ikut lomba” sahutku tak bersemangat.
“lomba apa?” Utari menimpali yang hanya ku jawab dengan mengedikkan bahu.
                Dalam hati aku sungguh bersyukur akhirnya ada juga yang menunjukku untuk mengikuti lomba, karena sejak SMA aku tidak pernah sekalipun mengikuti lomba karena ditunjuk oleh guru.
“tapi, ini kesempatan.. andaikan tugasku nggak menumpuk” aku bergumam.
Aku terus berpikir. Aku sebenarnya ingin mengikuti lomba ini, namun tugas akhir yang menumpuk membuatku berpikir dua kali.
Sesaat setelah aku sampai di rumah, sebuah sms kembali membunyikan hp q dan membuatku berubah pikiran.
Assalamualaikum zakia. Ini dea, kamu sudah dapat sms dari ustadzah? Kita disuruh bikin karya tulis buat lomba. Oya, kamu dimana?
Sms balasan aku kirimkan.
Waalaikum salam. Iya de, aku tadi dpt sms tapi belum sempat nemuin ustadzah. KTI? Ayo kita coba. Temanya apa?
Aku benar-benar berubah pikiran. Ya, apa salahnya mencoba. Ini kesempatan. Kesempatan sekaligus tantangan yang harus aku ambil kalau aku ingin berkembang. Baiklah, karya tulis ilmiah ini harus jadi dalam waktu tiga hari.
Rabu, 11 Juni 2015
Aku dan Dea sepakat untuk mengambil tema Al-Quran dan Pelestarian Lingkungan. Kami bertemu di masjid untuk langsung membuat karya tulis ini. Hari ini kami hanya mencari referensi dan membuat kerangka karya tulisnya saja. Aku sendiri tidak yakin apakah hasilnya akan memuaskan.
Karena hari sudah petang, akhirnya kami memutuskan hanya sampai pembuatan latar belakang saja. Lapar dan dingin mengalahkanku dan memaksaku untuk pulang ke rumah. Aku dan Dea membagi tugas untuk kemudian kami diskusikan kembali esok hari. Besok, karya tulis kami harus sudah selesai karena harus di serahkan kepada pembimbing untuk revisi.
Kamis, 12 Juni 2015
pukul sebelas siang ini seharusnya kami sudah menemui pembimbing kami. Namun, karya tulis kami belum selesai. Aku dan Dea baru mulai untuk mengerjakannya lagi pukul 10.30 karena padatnya jadwal kuliahku. Karena kami tidak mungkin menyelesaikan karya tulis dalam waktu 30 menit, akhirnya kami minta bimbingan diundur pukul 12.30 siang. Aku benar-benar diburu waktu. Bagaimana tidak, pukul 13.00 aku sudah harus kuliah Reading 2 dan ada tugas yang belum aku selesaikan. Ternyata, rencana tidak sesuai dengan yang diharapkan. Karena dosen pembimbing sibuk, kami baru mulai bimbingan pada pukul 13.05. kami melakukan bimbingan selama kurang lebih 25 menit. Banyak sekali yang harus kami perbaiki, mulai dari kata-kata yang kurang pas, hingga gagasan yang kurang kuat. Setelah selesai bimbingan, aku langsung masuk ke kelas dan menyusul kuliah. Beruntung, dosen Reading 2 sangat baik dan pengertian, walaupun telat 30 menit, aku tetap diizinkan masuk.
Aku dan Dea kembali melanjutkan memperbaiki karya tulis pukul 16.00 dan selesai pada pukul 17.30. aku langsung pulang ke rumah dan langsung mengirimkan perbaikan karya kami kepada dosen pembimbing.
Hingga hari Jumat sore, kami belum mendapat balasan dari e-mail karya tulis yang kami kirimkan. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak memperbaikinya lagi.
Jumat, 13 Juni 2015
Siang hari, sesampainya di rumah. Sebuah sms kembali membunyikan hp ku.
                Za, kita berangkat ke Semarang nanti malam jam 12.
Semua hal yang terjadi minggu ini benar-benar mendadak. Begitu pikirku. Karya tulis tanpa persiapan, dan sekarang pemberitahuan keberangkatanpun mendadak. Aku harus meyakinkan diri. Aku bisa.
Malam hari aku mulai mempersiapkan berkas-berkas yang akan di bawa. Saat mencetak file karya tulis aku baru sadar. Lembar pengesahan karya tulis kami belum ditandatangani oleh wakil rektor III dan dosen pembimbing. Saat itu dinding semangat dan keyakinan yang aku bangun dalam diriku seakan mulai runtuh. Bagaimana tidak, pukul 7 malam rektorat pasti sudah tutup dan kami tidak tahu rumah dosen pembimbing. Aku sudah berpikir untuk membatalkan saja lomba ini, karena semua terasa tidak mungkin.
Pukul 8 malam aku menemui Dea di kampus.kami benar-benar bingung, belum lagi kami mendapat kabar bahwa bapak Wakil Rektor III sedang berada di luar kota. Kami mencari cara untuk bisa mendapatkan tanda tangan beliau. Akhirnya kami memutuskan untuk men-scan tanda tangan beliau dari file yang sudah ada. Tidak hanya tanda tangan yang kami butuhkan, NIK wakil rektor III pun kami belum mendapatkannya. Aku dan Dea mencari NIK itu berjam-jam, mulai dari browsing hingga membuka-buka file lama yang ada di laptop Dea. Aku benar-benar putus asa saat itu. Sebentar lagi pukul 22.00 tapi kami belum menemukan NIK dan tanda tangan Bapak Wakil Rektor III serta tanda tangan dosen pembimbing, padahal ini merupakan salah satu hal penting yang harus ada pada karya tulis kami. Hingga saat-saat kritis dan merasa gagal sudah di depan mata, Dea membuka salah satu file lamanya. Kami serempak bersorak ketika mendapati NIK wakil rektor III tertera di sana. Pertolongan Allah benar-benar aku rasakan saat itu. Saat benar-benar merasa putus asa dan merasa akan “jatuh”, Allah mengulurkan “tali” pertolongan pada kami. Pukul 21.55 kami berhasil menemui dosen pembimbing kami untuk meminta tanda tangan beliau. Tidak disangka, beliau juga bersedia untuk mencari informasi tentang bagaimana Aku dan Dea bisa mendapatkan tanda-tangan wakil rektor III. Beliau mencoba menelepon wakil rektor III dan alhamdulillah, ternyata Bapak Wakil Rektor III berada di kediamannya yang tidak jauh dari kediaman dosen pembimbing kami. Dosen pembimbing kami mengantarkan kami menuju kediaman Bapak Wakil Rektor III. Pukul 22.20 kami berhasil mendapatkan tanda tangan wakil rektor III yang sebelumnya aku anggap mustahil untuk bisa mendapatkannya. Allah kembali menolong kami. Sekarang tinggal mencari stempel. Lagi-lagi dosen pembimbing menemani kami untuk mencari stempel itu. Kami menemui staff yang mengurus masalah stempel di kediamannya. Kami berhasil mendapatkan stempel walaupun harus membangunkan beliau. Allah terus membukakan jalan untuk kami. Pukul 23.20 kami berangkat menuju Semarang.
Sabtu, 14 Juni 2015
Sabtu subuh, kami sampai di UNISSULA Semarang. Kami mandi dan bersiap-siap. Namun, kabar buruk kembali menghampiri kami.
“dek, sudah kirim karya tulis kalian ke e-mail panitia belum, ini pengumpulan terakhir karya tulis tanggal 11, aku baru baca di web. ” kakak angkatan kami yang juga akan mengikuti lomba mengatakan berita itu pada kami.
Aku dan Dea membaca persyaratan di kertas yang di berikan oleh kakak angkatan kami. Kami sempurna terdiam saat itu. Karya tulis kami tidak bisa diikitsertakan karena melewati deadline pengumpulan. Kami benar-benar sedih, marah, tidak tau harus bagaimana. Merasa sia-sia datang ke Semarang. Tapi akhirnya kami menerima, anggap saja ini pengalaman. Semua kejadian pasti ada hikmahnya.
Pukul 8.00 pagi, ketika rombongan UMP akan memasuki ruangan, aku dan Dea dipanggil. Kami diminta untuk tanda tangan.
“kenapa kami harus tanda tangan pak? Kami kanb bukan peserta lomba.” Tanyaku pada ustadz yang menemani kami ke Semarang.
“sudah, tanda tangan saja. Kalian tetap boleh tampil presentasi”
Kami sangat bahagia sekaligus ragu saat mendengar kabar ini. Satu-satunya yang ada di kepalaku dan Dea hanya satu pertanyaan: bagaimana bisa?
Kami langsung mempersiapkan diri. Membangun semangat dan keyakinan yang tadi telah runtuh. Saat menunggu giliran tampil, panitia menjelaskan mengapa kami boleh diikutsertakan. Beberapa peserta juga ada yang bernasib sama seperti kami. Karena kuota peserta lomba masih tersisa, akhirnya kami diberi kesempatan untuk mempresentasikan karya tulis kami.
Aku berusaha sebaik mungkin mempresentasikan karya tulis ini. Satu karya tulis hanya boleh dipresentasikan oleh satu orang. Aku merasa tidak percaya diri karena tidak terbiasa tampil di depan umum, namun, Dea terus meyemangatiku. Aku pun harus semangat. Perjalanan tidak mudah untuk kami sampai sejauh ini. Presentasi berjalan lancar, namun aku pesimis terhadap hasilnya nanti. Lagi-lagi aku meragukan kebesaran Allah. Aku lupa, Allah Maha Segalanya. Kun Fayakun.
Di masjid, aku sempat bertemu dengan teman SMA ku, dia juga sedang mewakili universitasnya di lomba tilawatil Qur’an. Kami mengobrol sejenak. Tidak menyangka akan bertemu di UNISSULA seperti ini.
Karena kelelahan, aku dan semua tim lomba putri dari UMP ketiduran di masjid UNISSULA hingga adzan Asar. Kami melewatkan pengumuman hasil lomba karena yang kami tahu, pengumuman dilakukan setelah asar. Setelah sholat kami mendapat kabar bahwa pengumuman lomba telah dilaksanakan dan UMP mendapat juara 1 lomba tahfidz Quran. Aku sangat bersyukur karena setidaknya, dari beberapa perlombaan, kami bisa memenangkan salah satunya.
Setelah itu, kamipun pulang dan berhenti di pusat oleh-oleh.
Saat itu, satu sms masuk. Nomor baru.
                                Zakia, selamat ya...
“apa? Selamat?” aku segera membalasnya.
                                Selamat apa emanganya?
Sms balasan masuk,
                                Kamu juara 2 lomba karya tulis ilmiah Al-Quran yaaaa?
Aku terkejut memebaca sms ini. Aku ulang lagi membaca sms dari nomor baru ini. Aku menebak siapa pengirimnya. Aku ingat, minha, teman SMA ku yang tadi bertemu di masjid.
Aku langsung membalasnya.
                                Hah? Juara 2? Serius? Ini minha ya?
Sms balasan lagi.
                                Iya zak. Iya kok, tadi aku denger namamu dipanggil. Zakia ashif kan?
Aku langsung memberi tahu ustadz tentang kabar ini. Kami bergegas kembali ke UNISSULA untuk konfirmasi.
Ustadz yang membimbing kami mengonfirmasi apakah UMP (atas nama zakia ashif fauziah) memang benar mendapat juara atau tidak. Dan keajaiban kembali menghampiri kami. Allahu Akbar. Siapa yang menyangka? Aku dan Dea yang sudah putus asa, kami yang mengira semua usaha kami sia-sia. Kami yang terpaksa membangunkan dosen hanya untuk tanda tangan dan stempel dan kami kira itu sia-sia karena keterlambatan pengumpulan berkas. Ternyata Allah membuat semuanya lebih indah. Allah Is The Best Planner. Allah melihat usaha kami. UMP mendapat juara 2 lomba karya tulis. Alhamdulillah. Kami bisa membawa pulang 2 piala.
Namaku zakia. Aku menulis ini bukan untuk pamer. Lewat cerita ini, aku hanya ingin berbagi kisah, pengalaman dan motivasi. Bahwa usaha tidak akan menghianati. Mungkin kita merasa Allah kurang cepat memberikan pertolongan, tapi satu yang pasti, Allah tidak pernah terlambat, Allah selalu memberikan pertolongan tepat pada waktunya.   
Keajaiban tidak akan datang begitu saja, butuh usaha untuk mendapatkannya. Alhamdulillah, Allahu akbar.