Selasa, 10 Juni 2015
Siang
yang terik bertambah panas karena hari ini adalah hari terakhir pengumpulan
berkas untuk mengikuti mata kuliah magang 1, sedangkan aku belum melengkapi
berkas-berkas itu sama sekali. Saat itu, sebuah pesan yang menambah stres
membunyikan hp di genggamanku.
Zakia dan Dea, kalian ikut lomba ya di
Semarang hari sabtu. hari ini saya tunggu di LPPI ya untuk koordinasi.
Ustadzah
“aduh! Apalagi ini? Lomba? Tugas aja banyak banget”
serentetan keluhan keluar dari mulutku.
“kenapa, Za?” teman yang duduk di sebelahku
bertanya demi melihat wajah putus asaku.
“ini Ut, aku disuruh ikut lomba” sahutku tak
bersemangat.
“lomba apa?” Utari menimpali yang hanya ku jawab
dengan mengedikkan bahu.
Dalam
hati aku sungguh bersyukur akhirnya ada juga yang menunjukku untuk mengikuti
lomba, karena sejak SMA aku tidak pernah sekalipun mengikuti lomba karena
ditunjuk oleh guru.
“tapi, ini kesempatan.. andaikan tugasku nggak
menumpuk” aku bergumam.
Aku terus berpikir. Aku sebenarnya ingin mengikuti
lomba ini, namun tugas akhir yang menumpuk membuatku berpikir dua kali.
Sesaat setelah aku sampai di rumah, sebuah sms
kembali membunyikan hp q dan membuatku berubah pikiran.
Assalamualaikum zakia. Ini dea, kamu sudah
dapat sms dari ustadzah? Kita disuruh bikin karya tulis buat lomba. Oya, kamu dimana?
Sms balasan aku kirimkan.
Waalaikum salam. Iya de, aku tadi dpt sms
tapi belum sempat nemuin ustadzah. KTI? Ayo kita coba. Temanya apa?
Aku benar-benar berubah pikiran. Ya, apa salahnya
mencoba. Ini kesempatan. Kesempatan sekaligus tantangan yang harus aku ambil
kalau aku ingin berkembang. Baiklah, karya tulis ilmiah ini harus jadi dalam
waktu tiga hari.
Rabu, 11 Juni 2015
Aku dan Dea sepakat untuk mengambil tema Al-Quran
dan Pelestarian Lingkungan. Kami bertemu di masjid untuk langsung membuat karya
tulis ini. Hari ini kami hanya mencari referensi dan membuat kerangka karya
tulisnya saja. Aku sendiri tidak yakin apakah hasilnya akan memuaskan.
Karena hari sudah petang, akhirnya kami memutuskan
hanya sampai pembuatan latar belakang saja. Lapar dan dingin mengalahkanku dan
memaksaku untuk pulang ke rumah. Aku dan Dea membagi tugas untuk kemudian kami
diskusikan kembali esok hari. Besok, karya tulis kami harus sudah selesai
karena harus di serahkan kepada pembimbing untuk revisi.
Kamis, 12 Juni 2015
pukul sebelas siang ini seharusnya kami sudah
menemui pembimbing kami. Namun, karya tulis kami belum selesai. Aku dan Dea
baru mulai untuk mengerjakannya lagi pukul 10.30 karena padatnya jadwal
kuliahku. Karena kami tidak mungkin menyelesaikan karya tulis dalam waktu 30
menit, akhirnya kami minta bimbingan diundur pukul 12.30 siang. Aku benar-benar
diburu waktu. Bagaimana tidak, pukul 13.00 aku sudah harus kuliah Reading 2 dan
ada tugas yang belum aku selesaikan. Ternyata, rencana tidak sesuai dengan yang
diharapkan. Karena dosen pembimbing sibuk, kami baru mulai bimbingan pada pukul
13.05. kami melakukan bimbingan selama kurang lebih 25 menit. Banyak sekali
yang harus kami perbaiki, mulai dari kata-kata yang kurang pas, hingga gagasan
yang kurang kuat. Setelah selesai bimbingan, aku langsung masuk ke kelas dan
menyusul kuliah. Beruntung, dosen Reading 2 sangat baik dan pengertian, walaupun
telat 30 menit, aku tetap diizinkan masuk.
Aku dan Dea kembali melanjutkan memperbaiki karya
tulis pukul 16.00 dan selesai pada pukul 17.30. aku langsung pulang ke rumah
dan langsung mengirimkan perbaikan karya kami kepada dosen pembimbing.
Hingga hari Jumat sore, kami belum mendapat balasan
dari e-mail karya tulis yang kami kirimkan. Akhirnya kami memutuskan untuk
tidak memperbaikinya lagi.
Jumat, 13 Juni 2015
Siang hari, sesampainya di rumah. Sebuah sms
kembali membunyikan hp ku.
Za, kita berangkat ke Semarang nanti malam
jam 12.
Semua hal yang terjadi minggu ini benar-benar
mendadak. Begitu pikirku. Karya tulis tanpa persiapan, dan sekarang
pemberitahuan keberangkatanpun mendadak. Aku harus meyakinkan diri. Aku bisa.
Malam hari aku mulai mempersiapkan berkas-berkas
yang akan di bawa. Saat mencetak file karya tulis aku baru sadar. Lembar pengesahan
karya tulis kami belum ditandatangani oleh wakil rektor III dan dosen
pembimbing. Saat itu dinding semangat dan keyakinan yang aku bangun dalam
diriku seakan mulai runtuh. Bagaimana tidak, pukul 7 malam rektorat pasti sudah
tutup dan kami tidak tahu rumah dosen pembimbing. Aku sudah berpikir untuk
membatalkan saja lomba ini, karena semua terasa tidak mungkin.
Pukul 8 malam aku menemui Dea di kampus.kami
benar-benar bingung, belum lagi kami mendapat kabar bahwa bapak Wakil Rektor
III sedang berada di luar kota. Kami mencari cara untuk bisa mendapatkan tanda
tangan beliau. Akhirnya kami memutuskan untuk men-scan tanda tangan beliau dari
file yang sudah ada. Tidak hanya tanda tangan yang kami butuhkan, NIK wakil rektor
III pun kami belum mendapatkannya. Aku dan Dea mencari NIK itu berjam-jam,
mulai dari browsing hingga membuka-buka file lama yang ada di laptop Dea. Aku benar-benar
putus asa saat itu. Sebentar lagi pukul 22.00 tapi kami belum menemukan NIK dan
tanda tangan Bapak Wakil Rektor III serta tanda tangan dosen pembimbing,
padahal ini merupakan salah satu hal penting yang harus ada pada karya tulis
kami. Hingga saat-saat kritis dan merasa gagal sudah di depan mata, Dea membuka
salah satu file lamanya. Kami serempak bersorak ketika mendapati NIK wakil
rektor III tertera di sana. Pertolongan Allah benar-benar aku rasakan saat itu.
Saat benar-benar merasa putus asa dan merasa akan “jatuh”, Allah mengulurkan “tali”
pertolongan pada kami. Pukul 21.55 kami berhasil menemui dosen pembimbing kami
untuk meminta tanda tangan beliau. Tidak disangka, beliau juga bersedia untuk
mencari informasi tentang bagaimana Aku dan Dea bisa mendapatkan tanda-tangan
wakil rektor III. Beliau mencoba menelepon wakil rektor III dan alhamdulillah,
ternyata Bapak Wakil Rektor III berada di kediamannya yang tidak jauh dari kediaman
dosen pembimbing kami. Dosen pembimbing kami mengantarkan kami menuju kediaman
Bapak Wakil Rektor III. Pukul 22.20 kami berhasil mendapatkan tanda tangan
wakil rektor III yang sebelumnya aku anggap mustahil untuk bisa mendapatkannya.
Allah kembali menolong kami. Sekarang tinggal mencari stempel. Lagi-lagi dosen
pembimbing menemani kami untuk mencari stempel itu. Kami menemui staff yang
mengurus masalah stempel di kediamannya. Kami berhasil mendapatkan stempel
walaupun harus membangunkan beliau. Allah terus membukakan jalan untuk kami. Pukul
23.20 kami berangkat menuju Semarang.
Sabtu, 14 Juni 2015
Sabtu subuh, kami sampai di UNISSULA Semarang. Kami
mandi dan bersiap-siap. Namun, kabar buruk kembali menghampiri kami.
“dek, sudah kirim karya tulis kalian ke e-mail
panitia belum, ini pengumpulan terakhir karya tulis tanggal 11, aku baru baca
di web. ” kakak angkatan kami yang juga akan mengikuti lomba mengatakan berita
itu pada kami.
Aku dan Dea membaca persyaratan di kertas yang di
berikan oleh kakak angkatan kami. Kami sempurna terdiam saat itu. Karya tulis
kami tidak bisa diikitsertakan karena melewati deadline pengumpulan. Kami benar-benar
sedih, marah, tidak tau harus bagaimana. Merasa sia-sia datang ke Semarang. Tapi
akhirnya kami menerima, anggap saja ini pengalaman. Semua kejadian pasti ada
hikmahnya.
Pukul 8.00 pagi, ketika rombongan UMP akan memasuki
ruangan, aku dan Dea dipanggil. Kami diminta untuk tanda tangan.
“kenapa kami harus tanda tangan pak? Kami kanb
bukan peserta lomba.” Tanyaku pada ustadz yang menemani kami ke Semarang.
“sudah, tanda tangan saja. Kalian tetap boleh
tampil presentasi”
Kami sangat bahagia sekaligus ragu saat mendengar
kabar ini. Satu-satunya yang ada di kepalaku dan Dea hanya satu pertanyaan:
bagaimana bisa?
Kami langsung mempersiapkan diri. Membangun semangat
dan keyakinan yang tadi telah runtuh. Saat menunggu giliran tampil, panitia
menjelaskan mengapa kami boleh diikutsertakan. Beberapa peserta juga ada yang
bernasib sama seperti kami. Karena kuota peserta lomba masih tersisa, akhirnya
kami diberi kesempatan untuk mempresentasikan karya tulis kami.
Aku berusaha sebaik mungkin mempresentasikan karya
tulis ini. Satu karya tulis hanya boleh dipresentasikan oleh satu orang. Aku merasa
tidak percaya diri karena tidak terbiasa tampil di depan umum, namun, Dea terus
meyemangatiku. Aku pun harus semangat. Perjalanan tidak mudah untuk kami sampai
sejauh ini. Presentasi berjalan lancar, namun aku pesimis terhadap hasilnya
nanti. Lagi-lagi aku meragukan kebesaran Allah. Aku lupa, Allah Maha Segalanya.
Kun Fayakun.
Di masjid, aku sempat bertemu dengan teman SMA ku,
dia juga sedang mewakili universitasnya di lomba tilawatil Qur’an. Kami mengobrol
sejenak. Tidak menyangka akan bertemu di UNISSULA seperti ini.
Karena kelelahan, aku dan semua tim lomba putri
dari UMP ketiduran di masjid UNISSULA hingga adzan Asar. Kami melewatkan
pengumuman hasil lomba karena yang kami tahu, pengumuman dilakukan setelah
asar. Setelah sholat kami mendapat kabar bahwa pengumuman lomba telah
dilaksanakan dan UMP mendapat juara 1 lomba tahfidz Quran. Aku sangat bersyukur
karena setidaknya, dari beberapa perlombaan, kami bisa memenangkan salah
satunya.
Setelah itu, kamipun pulang dan berhenti di pusat
oleh-oleh.
Saat itu, satu sms masuk. Nomor baru.
Zakia, selamat ya...
“apa? Selamat?” aku segera membalasnya.
Selamat apa emanganya?
Sms balasan masuk,
Kamu juara 2 lomba karya tulis ilmiah
Al-Quran yaaaa?
Aku terkejut memebaca sms ini. Aku ulang lagi
membaca sms dari nomor baru ini. Aku menebak siapa pengirimnya. Aku ingat,
minha, teman SMA ku yang tadi bertemu di masjid.
Aku langsung membalasnya.
Hah? Juara 2? Serius? Ini minha ya?
Sms balasan lagi.
Iya zak. Iya kok, tadi aku denger namamu
dipanggil. Zakia ashif kan?
Aku langsung memberi tahu ustadz tentang kabar ini.
Kami bergegas kembali ke UNISSULA untuk konfirmasi.
Ustadz yang membimbing kami
mengonfirmasi apakah UMP (atas nama zakia ashif fauziah) memang benar mendapat
juara atau tidak. Dan keajaiban kembali menghampiri kami. Allahu Akbar. Siapa yang
menyangka? Aku dan Dea yang sudah putus asa, kami yang mengira semua usaha kami
sia-sia. Kami yang terpaksa membangunkan dosen hanya untuk tanda tangan dan
stempel dan kami kira itu sia-sia karena keterlambatan pengumpulan berkas. Ternyata
Allah membuat semuanya lebih indah. Allah Is The Best Planner. Allah melihat
usaha kami. UMP mendapat juara 2 lomba karya tulis. Alhamdulillah. Kami bisa
membawa pulang 2 piala.
Namaku zakia. Aku menulis ini bukan untuk pamer. Lewat
cerita ini, aku hanya ingin berbagi kisah, pengalaman dan motivasi. Bahwa usaha
tidak akan menghianati. Mungkin kita merasa Allah kurang cepat memberikan
pertolongan, tapi satu yang pasti, Allah tidak pernah terlambat, Allah selalu memberikan
pertolongan tepat pada waktunya.
Keajaiban tidak akan datang begitu saja, butuh
usaha untuk mendapatkannya. Alhamdulillah, Allahu akbar.