Berikut
ini saya mengutip pernyataan dari Syahrin Harahap dalam bukunya yang berjudul
“Islam Dinamis: Menegakkan Nilai-nilai Ajaran Al-Qur’an dalam Kehidupan Modern
di Indonesia” tentang salah satu bahasannya yaitu mengenai Rekonstruksi
Pemahaman Laylat al-Qadr.
Rekonstruksi Pemahaman Laylat
al-Qadr (Laiatul Qadr)
“Al-Qur’an
menginformasikan bahwa dirinya, (khususnya ayat pertama) diturunkan pada suatu
malam yang dinamakan Laylat al-Qadr (Q.A.97/al-Qadr:1).
Malam tersebut dipandang sebagai malam yang penuh keberkahan dan kemuliaan,
lebih mulia dari seribu bulan (Q.S. 97/Al-Qadr:3). Maka akan berbahagialah
orang yang menemukannya.
Maka untuk mencari keberkahan dan
kemuliaan malam itu, Rasulullah menganjurkan agar umat Islam mempersiapkan jiwa
untuk menyambutny, secara khusus, pada malam-malam ganjil setelah berlalu
duapuluh hari Ramadhan.
Sampai disini yang menjadi permasalahan
adalah apakah Laylat al-Qadr itu
hanya menjanjikan sejumlah rahmat bagi manusia berupa rezeki, doanya
dikabulkan, dan dosanya diampuni? Atau malam tersebut jika diperoleh/ditemukan
akan memiliki dampak berupa perubahan orientasi dan kualitas hidup bagi mereka
yang menemukannya? Untuk meruntutkan jalur analisis kita , segera berikut ini
akan dijelaskan rekaman singkat tradisi pemahaman Laylat al-Qadr dikalangan sebagian umat Islam.
Dikalangan umat ini terdapat tradisi
pemahaman (tentu juga berdasarkan nash)
bahwa Laylat al-Qadr adalah malam
penuh berkah dan rahmat, sehingga ia perlu dicari dan ditemukan. Bahkan ada
yang berusaha menunggunya dengan berjaga sepanjang malam ---pada bulan Ramadhan---,
sembari terpikir dibenaknya bahwa diantara tanda-tanda Laylat al-Qadr itu antara lain ‘hujan rintik-rintik’, ‘situasi
malam yang dingin’, dan lain-lain.
Ditemukan suatu riwayat yang berkembang
dikalangan umat itu, bahwa di satu saat di masa yang lampau pernah terjadi
“pada suatu malam seseorang mengikat tali kudanya pada pohon kelapa yang sedang
tumbang. Akan tetapi pagi harinya ia terperanjat melihat kudanya sudah
tergantung pada pohon kelapa yang berdiri dengan kokohnya. Sebab pada malamnya
pohon kelapa itu tumbang (bersujud di tanah), adalah dalam rangka menghormati Laylat al-Qadr yang sedang berlangsung”.
Riwayat lain juga menceritakan bahwa
ada seseorang yang hendak berwudhu’ namun ia terkejut ketika menyaksikan air
yang akan digunakan untuk berwudhu’ berada dalam keadaan beku, sebagai isyarat
bahwa saat itu Laylat al-Qadr sedang
berlangsung. Selain itu, banyak lagi ceritera-ceritera yang berkembang ditengah
masyarakat seputar Laylat al-Qadr
itu.
Ditengah tradisi pemahaman tersebut,
hal yang sangat menarik perhatian adalah bahwa tak seorangpun diantara umat ini
yang dapat berkata bahwa ia telah menemukan/memperoleh malam yang berkah itu.
Sehingga timbul kesan bahwa para ulama atau kyai sajalah yang dapat
memerolehnya.
Namun, ketika kita mencoba
mempertanyakan kepada para ulama dan para kyai kita yang terhormat (khususnya
yang ada saat ini), tak satupun diantara mereka yang dapat berkata bahwa malam
berkah itu pernah ditemukannya.
Kalau demikian halnya, dimana
sebetulnya Laylat al-Qadr itu?
Mungkinkah ia misterius? Atau pemahaman kita yang tidak proporsional
mengenainya? Untuk itulah tampaknya kita perlu melakukan telaah ulang terhadap
tradisi pemahaman mengenai Laylat al-Qadr
selama ini, agar umat tidak senantiasa berada dalam penantian yang tak
berkesudahan.
Dikalangan umat Islam terdapat tiga
visi mengenai (pengertian) Laylat al-Qadr.
Pertama, Laylat al-Qadr diartikan sebagai ‘penetapan dan pengaturan’. Jadi,
penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Demikian juga momentum turunnya
Al-Qur’an merupakan penetapan strategi baru bagi Nabi Muhammad SAW untuk
mengubah arah sejarah manusia. Firman Allah SWT dalam Q.S. 44/Ad-Dukhan ayat
3-4.
“sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu
malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang mengutus rasul-rasul. Pada
malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”
Kedua,
Laylat al-Qadr diartikan sebagai
‘kemuliaan’. Jadi malam tersebut adalah malam yang mulia, yang tiada taranya,
merupakan titik tolak untuk memperoleh segala kemuliaan yang dapat diraih. Dan
yang paling mengesankan disini adalah isyarat Allah SWT. Bahwa bagi siapa saja
yang ingin memperoleh kemuliaan dari-Nya, hendaknya diusahakan dengan rasa
gemar dan banyak membaca Al-Qur’an (dalam arti yang seluas-luasnya). Itulah
yang dikehendaki dengan kalimat “Bacalah,
dan Tuhanmu Yang Maha Mulia”. Disini, seakan Tuhan berkata, membacalah
secara serius dan seluas-luasnya, sebab dengan demikian Allah akan membagi
kemuliaan-Nya bagimu.
Ketiga,
Laylat al-Qadr diartikan secara
‘sempit’, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi mengiringi turunnya
Al-Qur’an. Firman Allah SWT dalam Q.S. 97/al-Qadr: 4 yang artinya:
“Dan
pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya
untuk mengatur segala urursan”
Apabila dianalisis lebih filosifis,
maka ketiga visi itu sama-sama benar, sebab malam itu merupakan batas strategi
perjuangan Rasul dalam mengubah arah sejarah manusia, dimalam itu pula Muhammad
dilantik menjadi Rasul yang mulia, dan pada malam itu pula malaikat turun
memenuhi bumi untuk membawa ketenangan dan kedamaian.
Bagi kita yang hidup di zaman kini,
kiranya perlu merekonstruksi pemahaman yang ada terhadap Laylat al-Qadr itu. Puasa Ramadhan yang di dalamnya kita memohon
ampunan Allah (khususnya sepuluh malam terakhir) perlu dijadikan sebagai
penetapan atau pengaturan strategi baru untuk menjalani kehidupan yang lebih
islami di masa depan. Namun, hal ini memerlukan penyucian diri lebih dahulu,
sebab Laylat al-Qadr tidak akan
mendatangi orang yang berjaga sepanjang malam menunggunya, tetapi ia hanya
mendatangi orang yang telah bersedia menyucikan dirinya dari segala dosa,
tunduk, sujud, pasrah pada Tuhannya, serta menyadari kealfaan dirinya, yang
dalam konteks puasa dilambangkan/diharapkan dari berbagai macam amal ibadah
pada duapuluh hari pertama.
Kondisi suci yang diraih seseorang itu
membuat dirinya dapat mendekat pada Kemahasucian Allah SWT, dan dengan
kedekatan itu ia akan memeproleh kemuliaan.
Begitulah, dengan disaksikan
oleh ribuan malaikat, seseorang merencanakan untuk memedomani Al-Qur’an dalam
menempuh masa depannya. Dengan kesaksian inilah para malaikat setelah selesai
puasa Ramadhan ‘melapor’ ke hadapan Allah SWT mengenai segala yang dilakukan
seorang manusia dan segala rencana-rencananya. Bukankah dalam kondisi yang
demikian berarti seseorang sesungguhnya telah memperoleh Laylat al-Qadr yang penuh rahmat dan berkah itu?
Dalam pemahaman ini, penemuan Laylat al-Qadr itu tidak lagi monopoli
para ulama dan kyai, serta ahli agam, akan tetapi siapa saja yang memiliki
kesadaran baru itu; seorang pengusaha, seorang manajer, seorang praktisi
bisnis, seorang birokrat, seorang seniman, seorang artis, bahkan seorang petani
di pedesaan, yang memiliki kesadaran baru itu, berhak memperoleh dan
menemukannya.
Ke arah inilah kiranya perlu dibawa
pemahaman Laylat al-Qadryang penuh
berkah itu, dan pemahaman seperti ini pula yang menjadikan penemuan Laylat al-Qadr itu dapat mendatangkan
perubahan bagi arah keberagamaan dan kualitas orang beriman.”
Sumber:
Harahap, Syahrin. 1997. Islam Dinamis: Menegakkan Nilai-nilai Ajaran Al-Qur’an dalam Kehidupan
Modern di Indonesia. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya.